Tradisi Meruncingkan Gigi, Rahasia Cantik  Wanita Suku Mentai

Turlagi.id – Indonesia dikenal sebagai negeri dengan sejuta tradisi. Dari Sabang sampai Merauke, hampir setiap suku memiliki cara unik dalam mengekspresikan identitas dan nilai-nilainya. Salah satunya datang dari Suku Mentawai yang tinggal di Kepulauan Mentawai, tepatnya Pulau Siberut, Sumatera Barat.

Jika umumnya perempuan mempercantik diri lewat perawatan wajah atau menjaga bentuk tubuh, wanita Mentawai justru memiliki standar kecantikan yang berbeda: gigi runcing, tato di tubuh, dan telinga panjang. Bagi mereka, tiga hal ini adalah simbol kedewasaan sekaligus pesona yang membuat seorang perempuan dianggap cantik.

Masyarakat Mentawai percaya, kebahagiaan jiwa harus sejalan dengan penampilan fisik. Karena itu, meruncingkan gigi tidak hanya sekadar kosmetik tradisional, tetapi juga bentuk perjuangan seorang perempuan dalam menemukan jati dirinya.
Dalam pandangan mereka, seorang wanita yang sudah menjalani prosesi ini akan memancarkan aura berbeda. Setiap langkahnya diyakini mampu memberikan pesona bagi lelaki yang melihatnya.

Tradisi ini bukan tanpa pengorbanan. Proses meruncingkan gigi dilakukan secara manual menggunakan besi tajam yang sudah diasah. Tidak ada bius, tidak ada obat penghilang rasa sakit. Hanya mental yang kuat, keberanian, dan tekad yang mendampingi para perempuan yang menjalaninya.

Rasa sakit yang luar biasa bisa berlangsung lama, namun banyak wanita Mentawai justru menantikannya, terutama menjelang pernikahan. Prosesi ini menjadi semacam pintu gerbang menuju kedewasaan sekaligus pembuktian kekuatan diri.

Lebih dari sekadar estetika, tradisi kerik gigi ini sarat makna filosofis. Masyarakat Mentawai memaknainya sebagai simbol pengendalian diri dari enam sifat buruk manusia atau Sad Ripu:
Kama (hawa nafsu), Lobha (tamak), Krodha (marah), Mada (mabuk), Matsarya (iri hati), Moha (bingung atau dungu).
Dengan melalui proses yang menyakitkan ini, perempuan Mentawai diyakini telah melewati ujian batin untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, anggun, dan matang.

Meski dunia modern membawa banyak perubahan, tradisi meruncingkan gigi tetap dijaga oleh masyarakat Mentawai. Bagi mereka, warisan budaya ini bukan hanya soal kecantikan, tetapi juga tentang identitas, kebanggaan, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan turun-temurun.

Bagi sebagian orang luar, tradisi ini mungkin terdengar ekstrem. Namun bagi perempuan Mentawai, gigi runcing adalah lambang keindahan, kedewasaan, dan kehormatan. Mereka percaya, dari rasa sakit yang dijalani, lahirlah kecantikan sejati.

Penulis: Omara

Editor: Juwi.A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *